
Merasa ngga sih dengan adanya jejaring sosial, membuat orang semakin
narsis? Ketemu teman-teman pasti akan selalu ada bergaya untuk di foto,
bahkan toilet pun bisa termasuk tempat favorit untuk di foto karena kata
orang yang suka banget foto di tempat ini lampu toilet membuat lebih
putih, benar githu Na? Xixixi..
Ah ternyata saya pun sudah
terjangkit narsis tingkat akut, sudah tahu telat parah asebelum ke TKP
masih nyempatin untuk berfoto ria (lihat foto 17 :P). Dan kali ini saya
hanya ingin membagi kebahagian ketika sabtu kemarin saya dan teman-teman
mengadakan acara sanlat dan bukber bersama anak-anak Gubug Ilmu dari
Cilingcing. Duuh ternyata yang datang lebih piyik-piyik dari dugaan
saya, cape membujuk dan berteriak kepada mereka supaya betah duduk 20
menit aja!!! Baru duduk 5 menit, setelah itu mereka juga sudah pada
larian hehehe. Yang salah sih bukan mereka tapi kami nya memang tidak
siap? Kami?? Wah jika temanku baca ini bisa di jitakkin kan cuma
kelompok aku yang kacau, lihat saja di foto, kelompok yang lain masih
mengikuti sesuai jadwal acara. Kelompokku sudah kocar kacir xixixi

Karena
aku tidak berhasil mengajak mereka, daripada aku makin stress kuajak
saja mereka melakukan permainan tapi yang kuingat juga main domikado.
Ketika sudah tidak tahu mau main apa..., yuuuk de kita foto-foto aja.
Horeee mereka diam juga beberapa saat.
Selain dengan anak-anak
itu yang lucu itu, aku juga bertemu dengan perempuan luar biasa yang
bernama Ibeth (foto 1 yang memakai jilbab coklat), bagaimana energi yang
dia punya dicurahkannya untuk anak-anak yang secara faktor ekonomi
orangtuanya termasuk kaum marginal. Tanpa putus asa dia mengkoordinir
kegiatan, dana, dan merayu orang tua anak-anak itu agar anak-anak yang
pintar itu mau mengikuti kegiatannya.
Merayu orang tua
anak-anak? Aku pikir dimanapun orang tua akan senang jika anaknya
mengikuti kegiatan yang positif. Tapi ternyata tidak semua, dan bahkan
menurut pengakuannya cukup sulit untuk meyakinkan orang tua dari
anak-anak untuk mensupport anaknya mengkuti kegiatan mereka. Ka Ibeth
bilang,"Kita ingin anak-anak itu merubah nasih mereka, mereka harus
lebih baik tapi bagaimana mereka bisa berubah jika yang diajarkan orang
tuanya kemalasan. Untuk kegiatan les aja susahnya minta ampun."
Jadi
teringat dari novel terbaik IKAPI Jakarta tahun ini "9 summers 10
autums", bagaimana Iwan S sang penulis, anak seorang supir angkot yang
berhasil menjadi direktur di New York dan itu diakuinya karena keluarga.
Belum baca novel itu? Bacalah... novel yang diangkat dari kisah nyata ,
aku sangat suka dengan kesederhanaan tulisannya dan membuat kita jadi
semakin mencintai keluarga.

Kemarin Ka Ibeth juga mewanti-wanti
kepada kami untuk menghabiskan makanan, ketika di lihatnya seorang
temanku tidak menghabiskan makanannya. Kemudian dia bercerita suatu hari
disaat dia sedang begitu lelahnya, dan kelelahannya begitu jelas
terlihat di wajahnya oleh anak-anak dan adik-adik itu (anak yang sudah
lumayan besar).
Salah satu adiknya, menawarkan susu kepadanya.
Dia menolak tawaran baik adiknya itu, tapi sang adik terus menerus
mendesaknya untuk mau meminum susu itu. Sambil lalu sang adikpun
bercerita bagaimana dia mendapatkan susu kotak itu, ternyata didapatnya
dari tempat pembuangan sampah. Beliau bercerita banyak tentang hal ini
yang jika ditulis bisa membuat pembacanya bosan karena aku tidak pandai
bertutur. .
*Aku upload juga foto bagian dari mesjid istiqlal,
biar kerinduan kepada masjidil Haram semakin menggelora, dan Allah
panggil kita semua kesana Aamiin.
Penulis: Eri Chandra.
Disalin dari blog Multiply Eri
readmore »»